Iklan

Advertisement

Selasa, 10 Januari 2023, Januari 10, 2023 WIB
Last Updated 2025-01-06T03:19:54Z
Al MambalBaliBerita BaliBerita FotoNewsODGJ BaliPasungYayasan Bungkulan

Lepaskan Pasungku, Sembuhkan Jiwaku

Advertisement

 








Prof  Dr Luh Ketut  Suryani SpKJ,  menjelaskan  bahwa ODGJ merupakan suatu gangguan jiwa berat yang dapat meliputi skizofrenia, paranoid, ataupun depresi berat. Menurut Suryani  apabila masyarakat lebih paham tentang penyakit mental, maka jumlah ODGJ di Bali yang diperkirakan mendekati 9.000 orang, akan dapat dikurangi termasuk mengurangi kasus bunuh diri yang juga termasuk gejala gangguan mental.


LK Suryani sejak tahun 2005 mendirikan Suryani Institute for Mental Health (SIMH) diawali keprihatinannya terhadap banyaknya ODGJ yang dipasung terutama di wilayah pedesaan. 




Menurut data Suryani Institute Mental Health, setidaknya 350 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bali hidup dalam kondisi terpasung oleh keluarganya sendiri.  Hingga saat ini SIMH telah mengobati setidaknya 600 ODGJ dan terus mendorong pihak keluarga untuk menghentikan pemasungan.  Hasilnya, menurut Suryani, kini 30  persen di antaranya dapat sembuh dan kembali ke masyarakat. (Nusa Bali|2021)



Pendiri Suryani Institue for Mental Health (SIMH)mengadakan  kegiatan ‘Run Across Bali for Mental Health’, sebuah gerakan untuk menyuarakan kepedulian pada posisi kesehatan jiwa melalui olahraga lari ini mengatakan berdasarkan data tahun 2009 tercatat ada 9 ribuan penderita gangguan jiwa. Jumlah itu naik dari sebelumnya sekitar tujuh ribu. Dan yang baru tertangani sekitar 350 orang. (Baliekbis, Mei 2018)




Pendiri SIMH, Prof Luh Ketut Suryani menuturkan bahwa kasus pemasungan ODGJ berat di Bali diperkirakan mencapai 350 orang dari 9.000 orang yang mengalami gangguan jiwa berat. Sedangkan jumlah kasus pemasungan yang telah ditemukan dan ditangani oleh SIMH baru sekitar 92 orang.


"Dengan gerakan di masyarakat dari SIMH berupa penanganan langsung, edukasi publik, meditasi massal, pameran foto internasional, dan berbagai upaya lainnya kami harap Bali bisa bebas pasung," tutur Prof Suryani. (Kumparan, Oktober 2022)